Mantan Wakil Kepala
Staf Angkatan Perang RI (1948-1949) dan Kepala Staf Angkatan Perang RI
(1950-1954), ini pensiun dini dari dinas militer karena prinsip yang berbeda
dengan Presiden Soekarno. Lalu orang yang selalu merasa berutang ini pun
mengisi hari-harinya menjadi aktivis gereja. Sampai kemudian menjadi Ketua
Dewan Gereja-Gereja di Indonesia (1959-1984), Ketua Dewan Gereja-Gereja se-Asia
dan Ketua Dewan Gereja-Gereja se-Dunia.
Sebelum pensiun, 1959,
pangkat terakhirnya letnan jenderal. ''Saya pensiun oleh karena tidak dapat
lagi bekerja sama dengan Proklamator, Presiden Republik Indonesia Pertama
(1945-1966) Presiden Soekarno,'' tutur Pak Sim dalam bukunya, Iman Kristen dan
Pancasila (BPK Gunung Mulai, 1984).
Pensiun ternyata bukan
berarti istirahat baginya. Pak Sim aktif dalam lembaga pedidikan (sempat
menjadi Ketua Yayasan dan Pembinaan Manajemen, misalnya) dan dalam organisasi
keagamaan. Ia menjalani kehidupan reflektif di DGI (Dewan Gereja-Gereja di
Indonesia) -- sekarang PGI (Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia). ''. di DGI .,
mungkin saya akan bisa memberikan sumbangan yang kecil dalam pengembangan
landasan-landasan etik teologi bagi tanggung jawab Kristen di suatu masa .,''
kata Pak Sim.
Oleh Th. Sumartana,
intelektual muda dari kalangan Kristen, Pak Sim disebut, ''Teoretikus oikumenis
pertama yang lahir dari lingkungan gereja-gereja di Indonesia setelah
Kemerdekaan.
Teguh
pada Prinsip dan Iman
Pria kelahiran
Sidikalang, 28 Januari 1920 ini adalah seorang perwira tinggi militer ahli
strategi perang sekaligus diplomat ulung. Ia 'dilahirkan' sejarah menjadi
perwira, awalnya hanya untuk mematahkan mitos yang ditebar gurunya ketika
sedang menempuh studi setingkat SLTA di AMS, Jakarta. Sang guru, seorang
keturunan Belanda selalu berkata kepada Simatupang dan siswa pribumi lain bahwa
Indonesia tidak mungkin bersatu dan memiliki angkatan perang untuk merdeka. Mitos
dimunculkan sang guru dengan mengedepankan bukti keanekaragaman penduduk dan
berhasilnya setiap perlawanan lokal ditumpas Belanda.
![]() |
| Sumber gambar: www.pusakaindonesia.org |
Peristiwa pendudukan
Belanda oleh Jerman di tahun 1940 pada awal-awal Perang Dunia II akhirnya
memaksa Belanda membuka kesempatan pendidikan Akademi Militer Kerajaan Belada
di Hindia Belanda, sebagai kepanjangan KMA Breda berlokasi di Bandung, Jawa
Barat. KMA Breda Bandung didirikan sebagai persiapan rencana pembebasan Negeri
Kincir Angin itu dari Nazi Jerman kelak, dengan memberi kesempatan kepada
penduduk pribumi menjadi perwira dengan sejumlah persyaratan masuk yang sudah
diperingan tentang kesetiaan kepada Kerajaan Belanda.
Hari itu, 10 Mei 1940
Gubernur Jenderal Hindia Belanda Tjarda van Starkenburg melalui pidato radio
memberitahukan bahwa Jerman telah menyerang Negeri Belanda. Di akhir pidatonya
ia menyerukan agar semua golongan di Hindia Belanda berdiri di belakang
Pemerintah Belanda dalam keadaan yang sangat sulit secara bersatu dan setia.
Demikian pula pidato
radio dari Panglima Eskader Angkatan Laut Belanda di Hindia Belanda, Laksamana
Helfrich, yang menyerukan kepada para pendengar agar mempersiapkan diri
mengambil bagian dalam upaya pembebasan Negeri Belanda di waktu yang akan
datang. Dalam pidato Helfrich, yang tetap terpaku dalam ingatan Simatupang
hingga akhir hayat, disebutkan, "Uw naam zal blijven voortleven onder de
bevrijders van Nederland". Yang artinya, "Nama Anda akan hidup terus
di antara para pembebas Negeri Belanda." Kalimat itu serta merta
"diterjemahkan" Simatupang menjadi heroik berbunyi, "Nama Anda
akan hidup terus di antara para PEMBEBAS INDONESIA".
Catatan pidato radio
kedua petinggi Pemerintahan Hindia Belanda itu dituangkan TB Simatupang dalam
buku memoar pribadinya, "Membuktikan Ketidakbenaran Suatu Mitos:
Menelusuri Makna Pengalaman Seorang Prajurit Generasi Pembebas Bagi Masa Depan
Masyarakat, Bangsa dan Negara," diterbitkan bersama oleh harian umum
"Suara Pembaruan" dan Pustaka Sinar Harapan, di Jakarta, tahun 1991.
Setelah melewati
berbagai tahapan seleksi ketat secara berjenjang selama berbulan-bulan
Simatupang akhirnya diterima sebagai kadet taruna, bersama sedikit saja warga
pribumi lain yang lulus untuk menggenap total 150 kadet taruna yang diterima
LMA Bandung. Ratusan taruna lain adalah warga Belanda totok dan Belanda
keturunan. Sesuai kebutuhan perang, semua perwira KMA Breda Bandung
diproyeksikan siap dimobilisasi ke daratan Eropa. Karena itu latihan
praktek-praktek kemiliteran sangat dominan diajarkan pada tahun-tahun pertama
dan kedua, padahal Simatupang sudah sangat menunggu-nunggu tibanya pelajaran
teoritis tentang strategi militer dan taktik perang.
Keahlian berpikir
tentang strategi militer dan taktik perang lebih dibutuhkan Simatupang
mengingat tujuan orisinilnya sesungguhnya adalah untuk membuktikan
ketidakbenaran mitos ketidakmampuan Indonesia memerdekakan diri dan membangun
angkatan perang yang tangguh.
Masuk
Lembaga Gereja
Simatupang pada
akhirnya bukan hanya berhasil mematahkan mitos sang penjajah. Bahkan, ia
sendiri berkesempatan menduduki jabatan sebagai Kepala Staf Angkatan Perang
(KSAP), antara tahun 1950-1954, berpangkat Letnan Jenderal TNI dalam usia relatif
masih sangat muda, 30 tahun. Beliau juga dikenal sebagai ahli strategi dan
diplomasi yang ulung sehingga terlibat dalam berbagai upaya diplomasi Indonesia
dan Belanda.
![]() |
| Sumber gambar: www.kemendagri.go.id |
Usai membuktikan
keteguhan prinsipnya di bidang kemiliteran dengan cara mundur, Simatupang
lantas menunjukkan keteguhan hati yang lain yakni kekuatan iman. Ia mengabdikan
diri di lembaga Dewan Gereja-Gereja Indonesia (DGI, sekarang PGI atau
Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia). Di DGI penganut agama Kristen dengan
tradisi Gereja Lutheran yang saleh sekaligus pemegang kuat adat Batak, ini
mengimani mungkin akan bisa memberikan sumbangan yang kecil dalam pengembangan
landasan-landasan etik teologi bagi tanggungjawab Kristen di suatu masa.
Keterlibatan Simatupang
di lembaga dan organisasi gereja agaknya adalah jalan pilihan terbaik sekaligus
kehendak Tuhan. Itu bukan pelarian dari seorang jenderal ahli strategi perang,
yang walau menjabat sebagai penasehat.
Simatupang yang
memiliki kesempatan bermukim di tanah Batak hanya pada 17 tahun pertama
usianya, dari 70 tahun masa kehidupannya sebelu m meninggal dunia 1 Januari 1990
di Jakarta, telah merasakan dan menyaksikan sendiri betapa pekabaran injil yang
terjadi di tanah Batak telah membawa banyak kemajuan. Khususnya pada era Dr.
Ingwer Ludwig Nommensen seorang misionaris warga Jerman yang lalu dijuluki
sebagai Rasul Bangsa Batak. Kemajuan yang dialami bangsa Batak terjadi terutama
di bidang pendidikan dan kesehatan.
Simatupang duduk di
berbagai lembaga kekristenan antara lain sebagai Ketua DGI sepanjang tahun
1959-1984, Ketua Dewan Gereja-Gereja se-Asia, Ketua Dewan Gereja-Gereja
se-Dunia, Ketua Yayasan Universitas Kristen Indonesia (UKI), dan terakhir Ketua
Majelis Pertimbangan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (MP-PGI) sejak
tahun 1984 hingga akhir hayat. Simatupang sempat pula menjadi Ketua Yayasan Institut
Pendidikan dan Pembinaan Manajemen (IPPM).
Hingga akhir hayatnya,
Simatupang telah berusaha mengabdikan hidupnya bagi gereja, bangsa dan negara. Nama
Simatupang pun hidup terus di antara para PEMBEBAS INDONESIA.


No comments:
Post a Comment