Oleh: Pdt. Anry Krismanto Nababan*
Dalam
kehidupan jemaat Kristen, ada pemahaman terhadap peranan Gereja yakni Gereja memiliki peran yang
kudus dan mengganggap politik itu kotor karena boleh menghalalkan segala
cara. Gereja dan politik dianggap dua peran kehidupan yang sangat berbeda,
Gereja dianggap memiliki peran dalam mengurusi hal-hal yang sorgawi sementara
politik memiliki peran dalam mengurusi hal-hal yang duniawi.
Pemahaman seperti ini juga dipahami oleh salah seorang warga gereja yang saat ini menjabat sebagai Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan Luhut Binsar Panjaitan dengan mengatakan "Gereja itu perannya bukan untuk berpolitik, Gereja adalah perpanjangan tangan Tuhan, dan harus membawa persatuan yang lurus dan utuh untuk umatnya sehingga jemaatnya menjadi lentera pembangunan dimana saja di seluruh pelosok Indonesia," kata Luhut ketika membuka acara Sidang Sinode Gereja Masehi Injil di Timor (GMIT) ke -33 di Bumi Tii Langga Kompleks Perkantoran Baa, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, Minggu (20/9/2015). Ketakutan umat semacam inilah yang membuat jemaat membatasi diri dan lebih memilih hidup pietis atau memikirkan hal-hal yang rohani saja sebagai jalan untuk ke surga, sekalipun secara sadar maupun tidak sadar, setiap jemaat pasti pernah melakukan tindakan politik.
Pemahaman seperti ini juga dipahami oleh salah seorang warga gereja yang saat ini menjabat sebagai Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum dan Keamanan Luhut Binsar Panjaitan dengan mengatakan "Gereja itu perannya bukan untuk berpolitik, Gereja adalah perpanjangan tangan Tuhan, dan harus membawa persatuan yang lurus dan utuh untuk umatnya sehingga jemaatnya menjadi lentera pembangunan dimana saja di seluruh pelosok Indonesia," kata Luhut ketika membuka acara Sidang Sinode Gereja Masehi Injil di Timor (GMIT) ke -33 di Bumi Tii Langga Kompleks Perkantoran Baa, Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur, Minggu (20/9/2015). Ketakutan umat semacam inilah yang membuat jemaat membatasi diri dan lebih memilih hidup pietis atau memikirkan hal-hal yang rohani saja sebagai jalan untuk ke surga, sekalipun secara sadar maupun tidak sadar, setiap jemaat pasti pernah melakukan tindakan politik.
Aristoteles seorang filsuf Yunani berpendapat bahwa politik
itu adalah bahagian dari etika yang berurusan dengan masalah kesejahteraan
manusia dan kegiatan berkelompok, dimana politik itu membutuhkan suatu strategi
supaya apa yang dirancang dan direncanakan berjalan dengan baik.
Makna politik perlu dipahami dalam kaitannya dengan pengertian dari Gereja itu sendiri, yakni εκκλησία (ekklêsia) yang berarti dipanggil keluar (ek= keluar; klesia
dari kata kaleo= memanggil); kumpulan orang yang dipanggil ke luar dari
dunia. Dalam konteks perjanjian lama, Yeremia diperintahkan Allah untuk melakukan kegiatan politik untuk mengupayakan
kesejahteraan umat (Yeremia 29:7 “Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu
Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya
adalah kesejahteraanmu”).
Kata politik secara etimologis berasal dari bahasa Yunani "Politeia", yang akar katanya adalah polis dan teia. Kata polis ini memiliki arti kesatuan masyarakat yang berdiri sendiri, yaitu negara. Adapun kata teia memiliki arti urusan. Maka, kata politik bisa diartikan sebagai urusan kehidupan negara. Dengan demikian, Gereja yang tidak bisa memisahkan diri dari dunia, walaupun bukan dari dunia, maka Gereja juga harus turut serta memberi sumbangsi dalam kehidupan dunia untuk menjadi garam dan terang. Peranan ini mengikuti teladan Yesus, yang bukan berasal dari dunia namun turut menyokong perdamaian dan keadilan sosial. Yesus berkotbah mengasihi dan mengampuni; Ia menyerang pemerasan dan ketidakadilan.
Kata politik secara etimologis berasal dari bahasa Yunani "Politeia", yang akar katanya adalah polis dan teia. Kata polis ini memiliki arti kesatuan masyarakat yang berdiri sendiri, yaitu negara. Adapun kata teia memiliki arti urusan. Maka, kata politik bisa diartikan sebagai urusan kehidupan negara. Dengan demikian, Gereja yang tidak bisa memisahkan diri dari dunia, walaupun bukan dari dunia, maka Gereja juga harus turut serta memberi sumbangsi dalam kehidupan dunia untuk menjadi garam dan terang. Peranan ini mengikuti teladan Yesus, yang bukan berasal dari dunia namun turut menyokong perdamaian dan keadilan sosial. Yesus berkotbah mengasihi dan mengampuni; Ia menyerang pemerasan dan ketidakadilan.
Dalam
konteks pemahaman Paulus kepada Jemaat Roma 13 tentang ketaatan kepada
Pemerintah, Paulus jelas menekankan bahwa Pemerintah itu alat Allah dan
ditetapkan oleh Allah. Namun pada realitanya, Pemerintah terkhusus Negara kita
Indonesia belum mengindahkan perannya sebagai yang telah dipilih dan ditetapkan oleh
Allah, sehingga saat ini marak kasus korupsi, ketidakadilan ataupun penutupan, pembongkaran, bahkan
pembakaran rumah ibadah seperti di Tolikara dan Aceh Singkil baru-baru ini.
Apakah Gereja sebagai institusi harus diam tanpa memainkan perannya? Disinilah kerap kali kegagalan Gereja dianggap tidak mampu menunjukkan Yesus sebagai tokoh politik dengan konteks kekinian dengan menolak radikalisasi mengatasnamakan agama, ataupun korupsi. Diharapkan Gereja menjalani perannya sebagai alat Allah yang ditetapkan untuk melawan kepentingan kekuasaan dan kerakusan nilai-nilai materialistis. Untuk itulah, Gereja harus mampu memengaruhi kebijakan pemerintahan sehingga masyarakat, bangsa, dan negara dapat menuju dan mempertahankan kesejahteraan serta keadilannya.
Apakah Gereja sebagai institusi harus diam tanpa memainkan perannya? Disinilah kerap kali kegagalan Gereja dianggap tidak mampu menunjukkan Yesus sebagai tokoh politik dengan konteks kekinian dengan menolak radikalisasi mengatasnamakan agama, ataupun korupsi. Diharapkan Gereja menjalani perannya sebagai alat Allah yang ditetapkan untuk melawan kepentingan kekuasaan dan kerakusan nilai-nilai materialistis. Untuk itulah, Gereja harus mampu memengaruhi kebijakan pemerintahan sehingga masyarakat, bangsa, dan negara dapat menuju dan mempertahankan kesejahteraan serta keadilannya.
* Pdt.Anry Krismanto Nababan saat ini merupakan Ketua Bidang Hubungan Internasional Pengurus Pusat GMKI MB 2014-2016, Aktivitas yang lain adalah melakukan pelayanan jemaat HKBP Mutiara Ressort Kayu Putih
Jakarta dan melanjutkan studi magister (S2) di Pendidikan Agama Kristen UKI. Motto hidupnya adalah "Hidupku berharga bagi Allah
dan setiap waktuku adalah kepunyaanNya.”

No comments:
Post a Comment