Wednesday, 18 November 2015

Perempuan dalam Komunikasi Lintas Iman

Oleh: Adhika Belnard*

"Demikianlah Ester dibawa masuk menghadap raja Ahasyweros ke dalam istananya pada bulan yang ke sepuluh yakni bulan Tebet pada tahun yang ke tujuh dalam pemerintahan baginda. Maka Ester dikasihi oleh baginda lebih daripada semua perempuan lain, dan ia beroleh sayang dan kasih baginda lebih daripada semua anak dara lain, sehingga baginda mengenakan mahkota kerajaan ke atas kepalanya dan mengangkat dia menjadi ratu ganti Wasti. Kemudian diadakanlah oleh baginda suatu perjamuan bagi semua pembesar dan pegawainya, yakni perjamuan karena Ester, dan baginda menitahkan kebebasan pajak bagi daerah – daerah serta mengaruniakan anugerah, sebagaimana layak bagi raja." (Ester 2 : 16 – 18)

Seorang filsuf Perancis, Jean Paul Sartre pernah mengemukakan gagasannya tentang “orang lain adalah neraka bagiku” sehingga berlaku prinsip The Other is enemy bukan The Other is unique. Meskipun bukan seorang teolog atau orang yang concern terhadap studi – studi biblical, saya selalu tertarik untuk menelusuri dan memberi pemaknaan terhadap perempuan dalam spirit juang mereka dan kali ini melalui perspektif studi komunikasi.

Siapa yang dapat menyangka bahwa Ester yang telah ditinggal mati oleh kedua orangtuanya dapat menjadi ratu dan menyelamatkan bangsa Yahudi. Ratu Ester menyampaikan informasi yang dapat diterima oleh Raja Ahasyweros sehingga membentuk perspektif yang benar terhadap orang Yahudi.

Komunikasi merupakan aktivitas simbolis dan pertukaran makna. Manusia adalah makhluk yang menyukai simbol (homo simbolicum) dan selalu berusaha untuk mencari dan mengeluarkan makna (homo significan). Simbol yang paling umum digunakan adalah bahasa. Selain itu kita juga mengenal gambar, warna, gestur tubuh, isyarat dan lainnya. Para filsuf Yunani memandang bahasa sebagai alat untuk mencari dan mengungkapkan kebenaran, untuk mengekspresikan hal – hal yang bersifat artistik, dan untuk persuasi. Kemudian para pakar linguistik kontemporer memberikan fungsi bahasa yang lebih rinci lagi baik secara sosial, psikologis dan politis.

Kita sudah sangat sering mendengar ungkapan mulutmu adalah harimaumu, atau memang lidah tak bertulang. Hal ini menyiratkan bahwa apa yang kita katakan dapat menjadi malapetaka bagi diri sendiri. Saya sendiri mengakui bahwa komunikasi sangat berperan sentral dalam proses aktualisasi diri maupun penerimaan diri kita di tengah kehidupan bermasyarakat.

Hari – hari ini kita dihadapkan pada kondisi dimana sangat sulit untuk memaknai multikultularisme yang ada di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Masih segar di ingatan kita tentang peristiwa – peristiwa intoleransi yang terjadi di Indonesia akhir – akhir ini. Baik itu peristiwa GKI Yasmin, HKBP Filadelfia, Tolikara,  Aceh Singkil, maupun pelarangan penggunaan Mushola As Syafiiyah di Denpasar, penghentian pembangunan Masjid Nur  Musafir Batuplat di Kupang, penyegelan Masjid Jemaat Ahmadiyah di Depok, dlsb. Lagi – lagi kita harus memaklumi kealpaan negara dalam menjamin kebebasaan beragama. Negara sepertinya tersesat dalam “berkomunikasi”.

Ester adalah seorang perempuan Israel (sebelumnya bernama Hadasa) yang hidup pada zaman pemerintahan Raja Ahasyweros (485 – 465 sm) di kerajaan Persia. Pada masa itu kerajaan Persia cukup besar dan kuat. Kerajaan itu meliputi seluruh tanah dari India di bagian timur sampai daerah Etiopia/Sudan di bagian barat. Kisah heroik Ester yang sudah kita ketahui bersama adalah ketika ia diangkat menjadi Ratu atas Persia yang kemudian menyelamatkan bangsa Yahudi dari rencana jahat seorang pejabat Persia bernama Haman.

Ester termasuk dalam golongan kelas yang tertindas, bahkan pada saat dia telah menjadi Ratu pun tidak lantas memberikan garansi bagi bangsa asalnya bahwa mereka akan terbebas dari penindasan bangsa Persia. Pada umumnya mereka yang tertindas sudah pasti memiliki banyak keterbatasan. Baik itu dari segi pemikiran, hak – hak privat, tindakan maupun kuasa. Mereka harus tunduk dan taat kepada bangsa Kerajaan Persia, khususnya Raja Ahasyweros.

Sebagai representasi dari bangsa asalnya, Ester dan Mordekhai melakukan strategi – strategi dalam komunikasi antar budaya. Komunikasi antar budaya ini terjadi karena mereka memiliki ras, etnis, bahkan agama yang berbeda. Kebudayaan sebagai proses dari interaksi sosial yang tumbuh dan berkembang di zaman pemerintahan Ahasyweros ternyata tidak serta merta membentuk karakter Ratu Ester untuk tidak berpihak pada bangsanya.

Ester mengetahui dari Mordekhai bahwa bangsa Yahudi akan dimusnahkan. Ester memposisikan dirinya dengan benar untuk membela perjuangan kaumnya. Secara sederhana kita akan menyimpulkan bahwa Ester mendapat pesan dari Mordekhai. Kemudian ia meresponnya dengan cepat dan tepat sehingga Raja Ahasyweros yang memberikan kasih dan sayang pada Ratu Ester mau mendengarnya.

Namun yang menjadi menarik disini adalah proses mendengarKalau kita memandang dari sudut pandang komunikasi, maka pada umumnya unsur – unsur dalam komunikasi yaitu komunikator, pesan, komunikan, saluran/media, umpan balik dan dampak/effectSeringkali kita lebih mengutamakan untuk mengucapkan kata – kata, tanpa memberi perhatian pada tahap awal yakni mendengar. Ester telah menunjukkan bagaimana proses mendengar yang efektif.

Hearing, Ester menyimak dengan perhatian penuh terhadap apa yang dikatakan oleh Hatah sebagai penyalur pesan antara dirinya dengan Mordekhai. Ester pun memiliki kemampuan untuk mengerti seluruh pesan yang ia dengarUnderstanding, mengharuskan Ester untuk memiliki kecerdasan dalam mengkonseptualisasi hubungan – hubungan kata dan kalimat. Ester harus memahami dengan benar bagaimana ritus pertemuan antara raja dan ratu yang jika tanpa perkenanan maka hukuman mati yang harus diterimanya. Dalam proses Responding pada Mordekhai, Haman maupun Raja, Ester memberi perhatian penuh terhadap sikap, prasangka, kebutuhan dan nilai – nilai yang ada dalam ketiganya.

Motif Ester dalam mencapai pengertian, membina kepercayaan, mengkoordinasi tindakan, dan merencanakan strategi inilah yang perlu kita adaptasi pada konteks kekinian bangsa ini. Kita juga dapat belajar dari salah satu kelompok perempuan lintas iman seperti Indonesia Conference on Religion and Peace yang bergerak di bidang interfaith dan dialog agama – agama. Lembaga ini turut berupaya untuk mengembangkan kehidupan beragama yang humanis dan pluralis di Indonesia.

Kini, baik laki – laki maupun perempuan memiliki hak yang setara untuk berperan di ruang – ruang publik. Dalam proses penguatan masyarakat, perempuan dan laki – laki memiliki fungsi – fungsi emansipatif dan partisipatif yang setara. Untuk itu dalam catatan ini ingin saya tegaskan bahwa konstruksi masyarakat yang komunikatif lintas iman perlu dikelola secara baik.

Hari – hari ini kita melihat bahwa ketika media (saluran) dikuasai oleh suatu kekuatan politik, maka dominasi bahasa dalam masyarakat pun akan berpihak dalam kepentingan kekuatan tersebut. Maka merupakan perjuangan kita bersama untuk memperkuat identitas kebangsaan yang multikultural dan harus mentransformasikan kekuatan produktif di masyarakat seperti jaringan – jaringan perempuan lintas iman. Tuhan Yesus Memberkati.

* Adhika Belnard menjadi Sekretaris Cabang periode 2013-2015 di GMKI Tual, Maluku Tenggara. Perempuan dengan nama panggilan Dhika ini aktif dalam berbagai kegiatan gender dan toleransi antar umat beragama.

No comments:

Post a Comment