Monday, 1 February 2016

Jadilah, Maka Semua Itu Baik


Kisah penciptaan Allah pada Kejadian 1 : 1 – 31 sudah menjadi bacaan wajib kita sejak masih belia. Saat masih kanak, kita sudah diajar untuk menghapalkan setiap ayat pada pasal pertama Kitab Suci ini. Kita semua pasti sudah pernah melalui masa dimana kita harus berdiri di depan puluhan bahkan ratusan jemaat dan mengucapkan ayat hafalan “pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi”. Sejak kecil kita telah diajar bahwa Allah yang menjadikan langit dan bumi beserta segala isinya.  

Allah telah merancang ciptaan yang indah dan sungguh amat baik. Allah menciptakan terang serta cakrawala, matahari, bulan, dan bintang-bintang. Benda-benda penerang dibutuhkan agar kehidupan dapat berlangsung.  Dalam ideal Allah juga tergambar adanya masa-masa, hari yang berganti hari hingga tahun berganti tahun.

Allah membentuk daratan dan lautan, aneka ragam tumbuhan dan hewan. Semuanya difirmankan-Nya untuk bertambah banyak dan memenuhi darat, laut, dan udara. Tercipta ekosistem yang sempurna di antara setiap makhluk hidup. Satu sama lain saling mengadakan dan meniadakan. Dengan ini setiap makhluk hidup dapat hidup ataupun mati.

Di akhir penciptaan-Nya, Allah menciptakan manusia. Manusia yang bertugas mengelola bumi beserta isinya, dan menjaga agar ekosistem yang sempurna ini dapat berlangsung dari masa ke masa, hari berganti hari hingga tahun berganti tahun.

Jadilah, maka semua itu baik. Hubungan harmonis antara tata surya, alam dan manusia sungguh amat baik di mata Allah. Kebaikan ini menjadi nilai yang absolut, mutlak, yang seharusnya menjadi tolok ukur kita juga dalam menilai kondisi realita yang ada di lingkungan kita saat ini. Bagaimanakah hubungan antara tata surya, alam dan manusia di masa kita sekarang? Masihkah semua itu baik, seperti yang ada di awal penciptaan?

Jadilah, dan tidak ada yang tidak baik. Apa yang berasal dari Allah pada hakekatnya adalah baik. Namun manusia sebagai “gambar” dan “rupa” Allah telah meniadakan kebaikan itu. Keabsolutan menjadi relatif. Mutlak menjadi bisa ditawar. Maka saat ini kita dapat melihat, alam dieksploitasi sesuka hati. Tata surya berusaha ditaklukkan, manusia dan manusia pun saling mematikan. Semua itu baik, pada awalnya. Apakah pada akhirnya, semua ciptaan Allah akan menjadi buruk dan jahat?

Sesuatu yang baik menurut Allah seharusnya bersifat universal dan absolut. Sesuatu yang baik tidak bisa relatif tergantung orang, waktu, dan tempat. Dia absolut. Maka kita seharusnya juga tidak menawar-nawar kebaikan. Ada begitu banyak kebaikan yang bisa kita lakukan, namun sering kali kita menawar-nawarnya, sehingga kita urung melakukannya. Ada juga begitu banyak keburukan yang terjadi di sekitar kita. Dan kita menoleransinya, sehingga keburukan ini dapat terus terjadi, bahkan menjadi hal yang biasa, sehingga kita lupa bahwa pada dasarnya itu adalah hal yang buruk.


Apakah yang baik itu? Apakah yang buruk itu? Silakan kita mencarinya sendiri karena manusia yang “segambar” dan “serupa” dengan Allah pada hakekatnya sudah diberi kemampuan untuk menilai itu semua. Mungkin kita saja yang selama ini menutup mata, telinga, dan mulut batin kita untuk melihat, mendengar, dan bersuara. Mari, kita kembalikan semua yang baik itu, menjadi baik, seperti kodrat awalnya.