Kisah penciptaan Allah pada Kejadian 1 : 1 – 31 sudah
menjadi bacaan wajib kita sejak masih belia. Saat masih kanak, kita sudah
diajar untuk menghapalkan setiap ayat pada pasal pertama Kitab Suci ini. Kita
semua pasti sudah pernah melalui masa dimana kita harus berdiri di depan
puluhan bahkan ratusan jemaat dan mengucapkan ayat hafalan “pada mulanya Allah
menciptakan langit dan bumi”. Sejak kecil kita telah diajar bahwa Allah yang
menjadikan langit dan bumi beserta segala isinya.
Allah telah merancang ciptaan yang indah dan sungguh
amat baik. Allah menciptakan terang serta cakrawala, matahari, bulan, dan
bintang-bintang. Benda-benda penerang dibutuhkan agar kehidupan dapat
berlangsung. Dalam ideal Allah juga tergambar
adanya masa-masa, hari yang berganti hari hingga tahun berganti tahun.
Allah membentuk daratan dan lautan, aneka ragam
tumbuhan dan hewan. Semuanya difirmankan-Nya untuk bertambah banyak dan memenuhi
darat, laut, dan udara. Tercipta ekosistem yang sempurna di antara setiap
makhluk hidup. Satu sama lain saling mengadakan dan meniadakan. Dengan ini
setiap makhluk hidup dapat hidup ataupun mati.
Di akhir penciptaan-Nya, Allah menciptakan manusia. Manusia
yang bertugas mengelola bumi beserta isinya, dan menjaga agar ekosistem yang
sempurna ini dapat berlangsung dari masa ke masa, hari berganti hari hingga
tahun berganti tahun.
Jadilah, maka semua itu baik. Hubungan harmonis
antara tata surya, alam dan manusia sungguh amat baik di mata Allah. Kebaikan
ini menjadi nilai yang absolut, mutlak, yang seharusnya menjadi tolok ukur kita
juga dalam menilai kondisi realita yang ada di lingkungan kita saat ini.
Bagaimanakah hubungan antara tata surya, alam dan manusia di masa kita
sekarang? Masihkah semua itu baik, seperti yang ada di awal penciptaan?
Jadilah, dan tidak ada yang tidak baik. Apa yang
berasal dari Allah pada hakekatnya adalah baik. Namun manusia sebagai “gambar”
dan “rupa” Allah telah meniadakan kebaikan itu. Keabsolutan menjadi relatif.
Mutlak menjadi bisa ditawar. Maka saat ini kita dapat melihat, alam
dieksploitasi sesuka hati. Tata surya berusaha ditaklukkan, manusia dan manusia
pun saling mematikan. Semua itu baik, pada awalnya. Apakah pada akhirnya, semua
ciptaan Allah akan menjadi buruk dan jahat?
Sesuatu yang baik menurut Allah seharusnya bersifat
universal dan absolut. Sesuatu yang baik tidak bisa relatif tergantung orang,
waktu, dan tempat. Dia absolut. Maka kita seharusnya juga tidak menawar-nawar
kebaikan. Ada begitu banyak kebaikan yang bisa kita lakukan, namun sering kali
kita menawar-nawarnya, sehingga kita urung melakukannya. Ada juga begitu banyak
keburukan yang terjadi di sekitar kita. Dan kita menoleransinya, sehingga
keburukan ini dapat terus terjadi, bahkan menjadi hal yang biasa, sehingga kita
lupa bahwa pada dasarnya itu adalah hal yang buruk.
Apakah yang baik itu? Apakah yang buruk itu? Silakan kita
mencarinya sendiri karena manusia yang “segambar” dan “serupa” dengan Allah
pada hakekatnya sudah diberi kemampuan untuk menilai itu semua. Mungkin kita
saja yang selama ini menutup mata, telinga, dan mulut batin kita untuk melihat,
mendengar, dan bersuara. Mari, kita kembalikan semua yang baik itu, menjadi
baik, seperti kodrat awalnya.






.jpg)
