Sunday, 25 October 2015

Stigmatisasi Janda dan Perempuan Indonesia

Belajar Dari Tokoh Rut

Oleh: Adhika Belnard*

Tetapi kata Rut :  “Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab kemana engkau pergi kesitu juga aku akan pergi, dan dimana engkau bermalam, disitu jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku – Rut 1 : 16

Perempuan adalah ciptaan istimewa, yang secara alkitabiah tertulis bahwa diangkat dari tulang rusuk pria. Dia dinamai ‘perempuan’ sebab ia diambil dari laki – laki untuk menjadi penolong bagi laki – laki tersebut.  Penolong dalam artian yang saya maksudkan yakni sosok perempuan yang memiliki kekuatan yang bisa saja kapasitasnya melebihi laki – laki dalam perspektif tertentu. Bukan soal studi komparasi antara laki – laki dan perempuan yang memang diciptakan untuk berpasangan tapi bagaimana perempuan yang kapasitas kekuatan dalam dirinya memampukan ia untuk bertahan meski tanpa sosok laki – laki.

Pengertian janda menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah wanita yang tidak bersuami lagi karena bercerai ataupun karena ditinggal mati suaminya. Dalam konteks relasi sosial, bangsa Indonesia masih mengagungkan budaya patriarki, dimana laki – laki menempati posisi yang lebih tinggi dari perempuan dalam beberapa aspek, misalnya pembagian peran dan tanggungjawab. Dibandingkan dengan kata “duda”, janda adalah labelling yang paling banyak menuai kontroversi. Disana digambarkan sosok perempuan yang kehilangan status, harapan bahkan harga dirinya mungkin tidak sebanding lagi dengan perempuan yang bersuami. Sehingga tidak heran jika kebanyakan di antara mereka memilih menikah lagi untuk terbebas dari stigma kejandaannya.

Bagi perempuan yang berpendidikan cukup dengan taraf ekonomi baik, stigma ini tidak terlalu memberikan dampak yang menyesakkan baginya meski tetap ada tekanan secara psikologis. Namun, bagi perempuan yang tidak berpendidikan / berpendidikan rendah dengan taraf ekonomi yang kurang baik, dia akan mendapat tantangan yang teramat berat untuk dapat bertahan dan memenangkan kehidupan.

Kehidupan zaman Rut pun mengalami hal demikian. Pada saat itu bangsa Israel mengalami kelaparan, sehingga Elimelekh dan isterinya Naomi beserta kedua anaknya keluar dari Betlehem dan berdiam di daerah Moab untuk beberapa waktu. Kedua anak Elimelekh yaitu Mahlon dan Kilyon memperistrikan perempuan Moab yakni Orpa dan Rut. Sepuluh tahun berlalu, Orpa dan Rut kehilangan suaminya. Ketiga perempuan ini harus mengalami dan menghadapi kenyataan pahit, Orpa memutuskan untuk kembali pada bangsanya dan Rut menguatkan hatinya untuk tetap bersama Naomi.

Stigma janda yang melekat pada Rut, tidak cukup kuat untuk menggoyahkan keyakinannya agar tetap bersama mertuanya untuk menghadapi segala tantangan dan tekanan kehidupan. Pada saat itu, ia secara sadar dan tanpa paksaan dari Naomi berusaha untuk tetap produktif dan mengambil tanggungjawab bekerja untuk menafkahi kehidupan mereka.

Pada zaman ini, mungkin tidak banyak janda yang memilih hidup bersama keluarga suaminya. Namun letak persoalannya bukan dengan siapa mereka hidup, melainkan konflik kebatinan yang mereka alami telah mengakibatkan banyak hal positif yang lepas dari kehidupan mereka. Dalam lingkungan tempat tinggal, mereka menjadi bahan percakapan tetangganya. Kalaupun bukan hal negatif, para tetangga akan menaruh belas kasihan yang berlebihan. Belas kasihan yang berlebihan inilah yang kemudian mengesankan seakan-akan perempuan dengan status janda telah kehilangan kekuatan dari dirinya. Padahal entah bersuami ataupun tidak, perempuan harus diberikan penghargaan yang sama atas keistimewaan dirinya. Penghargaan ini jauh lebih penting untuk memotivasi kehidupan perempuan, sehingga mereka akan tetap mampu berkarya dengan status apapun.

Jika kita membaca selanjutnya kisah Rut sampai pada ia bertemu dengan Boas dan kemudian menikahinya, kita akan menemukan bagaimana cara Tuhan Allah memulihkan kembali kehidupan Rut dan mertuanya, Naomi. Seharusnya kita belajar bagaimana cara kita berperilaku terhadap perempuan dengan status janda seperti yang Boas lakukan. Boas memperlakukan Rut dengan ramah, menyenangkan, dan perlakuan yang positif. Ia juga memperhatikan kebutuhan mereka. Kebutuhan disini tidak hanya soal kebutuhan jasmani tapi juga kebutuhan rohani, bagaimana kita menjadi saudara bagi mereka saat kesukaran.

Pada saat saya mencari kata kunci janda (dalam bahasa Indonesia) di mesin pencari Google, maka yang muncul adalah gambar – gambar perempuan dengan busana yang tidak sopan dan terlihat seperti perempuan penggoda yang liar. Ketika mencari kata janda (widow-dalam bahasa Inggris) maka gambar yang muncul adalah perempuan berbalut busana hitam yang menegaskan kesedihan di wajahnya dan terlihat kehilangan pengharapan. Ini mungkin menjadi hal yang biasa bagi kita, tapi secara tidak sadar dunia turut menghakimi perempuan dengan status janda.

Tidak ada satupun perempuan di dunia ini yang ingin menjanda. Kejandaan tidak pernah diharapkan dan kalaupun harus terjadi maka ini adalah bagian dari rencana Tuhan dalam setiap kehidupan kita. Sudah saatnya kita dan menghormati dan memberikan dukungan sosial pada setiap perempuan Indonesia, tanpa berdasar pada statusnya. Karakter sebagai bangsa Indonesia perlu diimplementasikan dalam setiap sendi kehidupan kita. Tata cara dan norma yang dianut berdasarkan kebudayaan bangsa harus mampu mengajarkan dan memotivasi hidup masyarakat.

Mari berhenti menghakimi mereka. Kita cerminkan ketulusan hati melalui perbuatan positif kepada mereka. Dengan memberikan contoh pada setiap orang untuk berhenti melakukan pelabelan negatif, maka kita sudah memberi semangat bagi tiap perempuan Indonesia untuk tetap berkarya dan produktif di setiap situasi dan kondisi.

Tuhan Yesus Memberkati setiap kita J
Ut Omnes Unum Sint.

* Adhika Belnard menjadi Sekretaris Cabang periode 2013-2015 di GMKI Tual, Maluku Tenggara. Perempuan dengan nama panggilan Dhika ini aktif dalam berbagai kegiatan gender dan toleransi antar umat beragama.

No comments:

Post a Comment