Belajar Dari Tokoh Rut
Oleh: Adhika Belnard*
Tetapi kata Rut : “Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan
pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab kemana engkau pergi kesitu juga aku
akan pergi, dan dimana engkau bermalam, disitu jugalah aku bermalam:
bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku – Rut 1 : 16
Perempuan
adalah ciptaan istimewa, yang secara alkitabiah tertulis bahwa diangkat dari
tulang rusuk pria. Dia dinamai ‘perempuan’
sebab ia diambil dari laki – laki untuk menjadi penolong bagi laki – laki
tersebut. Penolong dalam artian yang saya maksudkan
yakni sosok perempuan yang memiliki kekuatan yang bisa saja kapasitasnya melebihi
laki – laki dalam perspektif tertentu. Bukan soal studi komparasi antara laki –
laki dan perempuan yang memang diciptakan untuk berpasangan tapi bagaimana
perempuan yang kapasitas kekuatan dalam dirinya memampukan ia untuk bertahan
meski tanpa sosok laki – laki.
Pengertian janda menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah
wanita yang tidak bersuami lagi karena bercerai ataupun karena ditinggal mati
suaminya. Dalam konteks relasi sosial, bangsa Indonesia masih mengagungkan budaya
patriarki, dimana laki – laki menempati posisi yang lebih tinggi dari perempuan
dalam beberapa aspek, misalnya pembagian peran dan tanggungjawab. Dibandingkan
dengan kata “duda”, janda
adalah labelling yang paling banyak
menuai kontroversi. Disana digambarkan sosok perempuan yang
kehilangan status, harapan bahkan harga dirinya mungkin tidak sebanding lagi
dengan perempuan yang bersuami. Sehingga tidak heran jika kebanyakan di antara mereka memilih menikah lagi untuk terbebas dari
stigma kejandaannya.
Bagi
perempuan yang berpendidikan cukup dengan taraf ekonomi baik, stigma ini tidak
terlalu memberikan dampak yang menyesakkan baginya meski tetap ada tekanan secara psikologis. Namun, bagi perempuan yang tidak berpendidikan / berpendidikan
rendah dengan taraf ekonomi yang kurang baik,
dia akan mendapat tantangan yang teramat berat untuk
dapat bertahan dan memenangkan kehidupan.
Kehidupan
zaman Rut pun mengalami hal demikian. Pada saat itu bangsa Israel mengalami kelaparan, sehingga
Elimelekh dan isterinya Naomi beserta kedua anaknya keluar
dari Betlehem dan berdiam di daerah Moab untuk beberapa waktu. Kedua anak
Elimelekh yaitu Mahlon dan Kilyon memperistrikan perempuan Moab yakni Orpa dan Rut. Sepuluh tahun berlalu,
Orpa dan Rut kehilangan suaminya. Ketiga perempuan ini harus mengalami dan
menghadapi kenyataan pahit, Orpa memutuskan untuk kembali pada bangsanya dan
Rut menguatkan hatinya untuk tetap bersama Naomi.
Stigma janda
yang melekat pada Rut, tidak cukup kuat untuk menggoyahkan keyakinannya agar
tetap bersama mertuanya untuk menghadapi segala tantangan dan tekanan
kehidupan. Pada saat itu, ia secara sadar dan tanpa paksaan dari Naomi berusaha
untuk tetap produktif dan mengambil tanggungjawab bekerja untuk menafkahi
kehidupan mereka.
Pada zaman
ini, mungkin tidak banyak janda
yang memilih hidup bersama keluarga suaminya. Namun letak persoalannya bukan dengan siapa mereka
hidup, melainkan konflik kebatinan yang mereka alami telah mengakibatkan
banyak hal positif yang lepas dari kehidupan mereka.
Dalam lingkungan tempat tinggal, mereka menjadi bahan percakapan
tetangganya. Kalaupun bukan hal negatif, para tetangga akan menaruh belas kasihan yang berlebihan. Belas
kasihan yang berlebihan inilah yang kemudian mengesankan seakan-akan perempuan dengan status janda telah kehilangan
kekuatan dari dirinya. Padahal entah bersuami ataupun tidak,
perempuan harus diberikan penghargaan yang sama atas keistimewaan dirinya.
Penghargaan ini jauh lebih penting untuk memotivasi kehidupan perempuan,
sehingga mereka akan tetap mampu berkarya dengan status apapun.
Jika kita
membaca selanjutnya kisah Rut sampai pada ia bertemu dengan Boas dan kemudian
menikahinya, kita akan menemukan bagaimana cara Tuhan
Allah memulihkan kembali kehidupan Rut dan mertuanya, Naomi. Seharusnya kita belajar bagaimana cara
kita berperilaku terhadap perempuan dengan status janda seperti yang Boas
lakukan. Boas memperlakukan Rut dengan ramah,
menyenangkan, dan perlakuan
yang positif. Ia juga memperhatikan kebutuhan mereka. Kebutuhan
disini tidak hanya soal kebutuhan jasmani tapi juga kebutuhan rohani, bagaimana
kita menjadi saudara bagi mereka saat kesukaran.
Pada saat
saya mencari kata kunci janda (dalam bahasa Indonesia) di mesin pencari Google, maka yang
muncul adalah gambar – gambar perempuan dengan busana yang tidak sopan dan
terlihat seperti perempuan penggoda yang liar. Ketika mencari kata janda (widow-dalam bahasa Inggris) maka
gambar yang muncul adalah perempuan berbalut busana hitam yang menegaskan
kesedihan di wajahnya dan
terlihat kehilangan pengharapan. Ini mungkin menjadi hal yang biasa bagi kita,
tapi secara tidak sadar dunia turut menghakimi perempuan dengan status janda.
Tidak ada
satupun perempuan di dunia ini yang ingin menjanda. Kejandaan
tidak pernah diharapkan dan kalaupun harus terjadi maka ini adalah bagian dari
rencana Tuhan dalam setiap kehidupan
kita. Sudah saatnya kita dan menghormati dan memberikan dukungan sosial pada
setiap perempuan Indonesia, tanpa berdasar pada statusnya. Karakter sebagai bangsa Indonesia perlu diimplementasikan dalam setiap
sendi kehidupan kita. Tata
cara dan norma yang dianut berdasarkan kebudayaan bangsa harus mampu
mengajarkan dan memotivasi hidup masyarakat.
Mari berhenti
menghakimi mereka. Kita cerminkan
ketulusan hati melalui perbuatan positif kepada
mereka. Dengan memberikan contoh pada setiap orang untuk berhenti melakukan
pelabelan negatif, maka kita sudah memberi semangat bagi tiap perempuan Indonesia untuk
tetap berkarya dan produktif di setiap situasi dan kondisi.
Tuhan Yesus
Memberkati setiap kita J
Ut Omnes Unum Sint.
* Adhika Belnard menjadi Sekretaris Cabang periode 2013-2015 di GMKI Tual, Maluku Tenggara. Perempuan dengan nama panggilan Dhika ini aktif dalam berbagai kegiatan gender dan toleransi antar umat beragama.


No comments:
Post a Comment