"Demikianlah Ester dibawa masuk menghadap raja Ahasyweros ke dalam istananya pada bulan yang ke sepuluh yakni bulan Tebet pada tahun yang ke tujuh dalam pemerintahan baginda. Maka Ester dikasihi oleh baginda lebih daripada semua perempuan lain, dan ia beroleh sayang dan kasih baginda lebih daripada semua anak dara lain, sehingga baginda mengenakan mahkota kerajaan ke atas kepalanya dan mengangkat dia menjadi ratu ganti Wasti. Kemudian diadakanlah oleh baginda suatu perjamuan bagi semua pembesar dan pegawainya, yakni perjamuan karena Ester, dan baginda menitahkan kebebasan pajak bagi daerah – daerah serta mengaruniakan anugerah, sebagaimana layak bagi raja." (Ester 2 : 16 – 18)
Seorang filsuf Perancis, Jean
Paul Sartre pernah mengemukakan gagasannya tentang “orang lain adalah neraka
bagiku” sehingga berlaku prinsip The Other is enemy bukan The
Other is unique. Meskipun bukan seorang teolog atau orang yang concern terhadap
studi – studi biblical, saya selalu tertarik untuk menelusuri dan memberi
pemaknaan terhadap perempuan dalam spirit juang mereka dan kali ini melalui
perspektif studi komunikasi.
Siapa yang dapat menyangka bahwa Ester yang
telah ditinggal mati oleh kedua orangtuanya dapat menjadi ratu dan
menyelamatkan bangsa Yahudi. Ratu Ester menyampaikan
informasi yang dapat diterima oleh Raja Ahasyweros sehingga membentuk
perspektif yang benar terhadap orang Yahudi.
Komunikasi merupakan aktivitas simbolis dan
pertukaran makna. Manusia adalah makhluk yang menyukai simbol (homo
simbolicum) dan selalu berusaha untuk mencari dan mengeluarkan makna (homo
significan). Simbol yang paling umum digunakan adalah bahasa. Selain itu kita juga mengenal
gambar, warna, gestur tubuh, isyarat dan lainnya. Para filsuf Yunani memandang
bahasa sebagai alat untuk mencari dan mengungkapkan kebenaran, untuk
mengekspresikan hal – hal yang bersifat artistik, dan untuk persuasi.
Kemudian para pakar linguistik kontemporer memberikan fungsi bahasa yang lebih
rinci lagi baik secara sosial, psikologis dan politis.
Kita sudah sangat sering mendengar ungkapan mulutmu
adalah harimaumu, atau memang lidah tak
bertulang. Hal ini menyiratkan bahwa
apa yang kita katakan dapat menjadi malapetaka bagi diri sendiri. Saya
sendiri mengakui bahwa komunikasi sangat berperan sentral dalam proses
aktualisasi diri maupun penerimaan diri kita di tengah kehidupan bermasyarakat.
Hari – hari ini kita dihadapkan pada kondisi
dimana sangat sulit untuk memaknai multikultularisme yang ada di Negara
Kesatuan Republik Indonesia. Masih segar di ingatan kita tentang peristiwa –
peristiwa intoleransi yang terjadi di Indonesia akhir – akhir ini. Baik itu
peristiwa GKI Yasmin, HKBP Filadelfia, Tolikara,
Aceh Singkil, maupun
pelarangan penggunaan Mushola As Syafiiyah di Denpasar, penghentian
pembangunan Masjid Nur Musafir Batuplat di Kupang, penyegelan Masjid Jemaat Ahmadiyah
di Depok, dlsb.
Lagi – lagi kita harus memaklumi kealpaan negara dalam menjamin kebebasaan
beragama. Negara sepertinya tersesat dalam
“berkomunikasi”.
Ester adalah seorang perempuan Israel
(sebelumnya bernama Hadasa) yang hidup pada zaman pemerintahan Raja
Ahasyweros (485 – 465 sm) di kerajaan Persia. Pada masa itu kerajaan Persia
cukup besar dan kuat. Kerajaan itu meliputi seluruh tanah dari India di bagian
timur sampai daerah Etiopia/Sudan di bagian barat. Kisah heroik Ester yang
sudah kita ketahui bersama adalah ketika ia diangkat menjadi Ratu atas Persia
yang kemudian menyelamatkan bangsa Yahudi dari rencana jahat seorang pejabat Persia
bernama Haman.
Ester termasuk dalam golongan kelas yang
tertindas, bahkan pada saat dia telah menjadi Ratu pun tidak lantas memberikan
garansi bagi bangsa asalnya bahwa mereka akan terbebas dari penindasan bangsa
Persia. Pada umumnya mereka yang tertindas sudah pasti memiliki banyak
keterbatasan. Baik itu dari segi pemikiran, hak – hak privat, tindakan maupun
kuasa. Mereka harus tunduk dan taat kepada bangsa Kerajaan Persia, khususnya
Raja Ahasyweros.
Sebagai representasi dari bangsa asalnya, Ester
dan Mordekhai
melakukan strategi – strategi dalam komunikasi antar budaya. Komunikasi antar
budaya ini terjadi karena mereka memiliki ras, etnis, bahkan agama yang
berbeda. Kebudayaan sebagai proses dari interaksi sosial yang tumbuh
dan berkembang di zaman pemerintahan Ahasyweros ternyata tidak serta merta
membentuk karakter Ratu Ester untuk tidak berpihak pada bangsanya.
Ester mengetahui dari Mordekhai bahwa
bangsa Yahudi
akan dimusnahkan. Ester memposisikan dirinya dengan benar untuk membela
perjuangan kaumnya. Secara sederhana kita akan menyimpulkan bahwa Ester mendapat
pesan dari Mordekhai. Kemudian ia meresponnya dengan cepat
dan tepat sehingga Raja Ahasyweros yang memberikan kasih dan sayang pada Ratu
Ester mau mendengarnya.
Namun yang menjadi menarik disini adalah
proses mendengar. Kalau kita memandang dari
sudut pandang komunikasi, maka pada umumnya unsur – unsur dalam komunikasi
yaitu komunikator, pesan, komunikan, saluran/media, umpan balik dan dampak/effect. Seringkali
kita lebih
mengutamakan untuk mengucapkan kata – kata, tanpa
memberi perhatian pada tahap awal yakni mendengar. Ester telah menunjukkan
bagaimana proses mendengar yang efektif.
Hearing,
Ester menyimak dengan perhatian penuh terhadap apa yang dikatakan oleh Hatah
sebagai penyalur pesan antara dirinya dengan Mordekhai.
Ester pun memiliki kemampuan untuk mengerti seluruh pesan yang ia dengar. Understanding, mengharuskan Ester untuk
memiliki kecerdasan dalam mengkonseptualisasi hubungan – hubungan kata dan
kalimat. Ester harus memahami dengan benar bagaimana ritus
pertemuan antara raja dan ratu yang jika tanpa perkenanan maka hukuman mati
yang harus diterimanya. Dalam proses Responding pada Mordekhai, Haman
maupun Raja, Ester
memberi perhatian penuh terhadap sikap, prasangka, kebutuhan dan nilai – nilai
yang ada dalam ketiganya.
Motif Ester dalam mencapai
pengertian, membina kepercayaan, mengkoordinasi tindakan, dan
merencanakan strategi inilah yang perlu kita adaptasi pada konteks kekinian
bangsa ini. Kita juga dapat belajar dari salah satu kelompok perempuan lintas
iman seperti Indonesia Conference on Religion and Peace yang
bergerak di bidang interfaith dan dialog agama – agama. Lembaga ini turut
berupaya untuk mengembangkan kehidupan beragama yang humanis dan pluralis di
Indonesia.
Kini, baik laki – laki
maupun perempuan memiliki hak yang setara untuk berperan di ruang – ruang
publik. Dalam proses penguatan masyarakat, perempuan dan laki – laki memiliki
fungsi – fungsi emansipatif dan partisipatif yang setara. Untuk itu dalam
catatan ini ingin saya tegaskan bahwa konstruksi masyarakat yang komunikatif
lintas iman perlu dikelola secara baik.
Hari – hari ini kita melihat bahwa ketika media
(saluran) dikuasai oleh suatu kekuatan politik, maka dominasi bahasa dalam
masyarakat pun akan berpihak dalam kepentingan kekuatan tersebut. Maka merupakan perjuangan
kita bersama untuk memperkuat identitas kebangsaan yang multikultural dan harus
mentransformasikan kekuatan produktif di masyarakat seperti jaringan – jaringan
perempuan lintas iman. Tuhan Yesus Memberkati.
* Adhika Belnard menjadi
Sekretaris Cabang periode 2013-2015 di GMKI Tual, Maluku Tenggara. Perempuan
dengan nama panggilan Dhika ini aktif dalam berbagai kegiatan gender dan
toleransi antar umat beragama.






.jpg)

.jpg)

.jpg)