Lukas 14: 16-21
Seringkali kita terlibat pertikaian dengan orang
lain. Sakit hati, dendam, kekecewaan, amarah, dan banyak hal lainnya menjadi
biang keladi dari permusuhan. Kedamaian pun seakan jauh dari kehidupan kita.
Kita bertikai dengan teman, guru, tetangga, bahkan keluarga atau orangtua kita
sendiri. Alasan pembenar kita pun klasik, kita hanyalah manusia biasa yang
pasti juga bisa sakit hati dan marah. Wajar kalau sesekali terlarut dengan
emosi diri.
Yesus, Sang Bayi Pendamai lahir ke dunia untuk
memberikan kasih dan membawa kedamaian dan pembebasan bagi setiap orang. Dia
datang bukan hanya untuk mengajarkan apa kasih itu, tapi juga menunjukkan
melalui kehidupan-Nya. Dia hidup di dunia bukan hanya untuk meminta manusia
mewujudkan kedamaian, tapi Dia juga melakukannya. Yesus meruntuhkan setiap
tembok yang berusaha membelenggu tegaknya kedamaian di tengah kehidupan
manusia.
Dia mendamaikan perselisihan antara orang Yahudi dan
orang Samaria dengan meminum air dari timba perempuan Samaria (Yoh 4: 1-42).
Yesus mendamaikan para penderita kusta dengan masyarakat Yahudi yang terikat
hukum adat dimana para penderita kusta harus disisihkan dan dikeluarkan dari
kota (Luk 5: 12-16, Luk 17: 11-19). Yesus juga memberi kedamaian kepada orang-orang
yang dianggap sebelah mata; para pemungut cukai, pelacur, janda, anak-anak,
orang buta, lumpuh, dan lainnya. Yesus menunjukkan bahwa kasih dan kedamaian
harus dirasakan oleh setiap orang. Dan diakhir hidupnya, sebagai puncak dari
perjalanan hidupnya, Yesus menjembatani hadirnya kedamaian antara manusia
dengan Penciptanya. Yesus mendamaikan manusia dan Allah, dengan mati di kayu
salib dan bangkit pada hari ketiga. Maka nyatalah bahwa kehidupan Yesus adalah
kehidupan yang menghadirkan kasih dan damai antara manusia dengan manusia,
manusia dengan alam sekitarnya, dan paling utama, manusia dengan Allah.
Kiranya kehidupan Yesus dapat memberi pelajaran
hidup yang akan kita lakukan dalam kehidupan kita. Mungkin selama ini mudah
bagi kita untuk sakit hati, dendam, kecewa, dan marah kepada orang lain. Tapi,
sejak kita mengenal dan memahami kehidupan Yesus, maka semua itu tidak akan
mudah lagi masuk dalam kehidupan kita. Maka genaplah keinginan Yesus Sang
Pembawa Damai, bahwa setiap orang yang belajar dari kehidupan-Nya akan menjadi
agen-agen pembawa kedamaian bagi dunia. Tuhan memberkati kita.

No comments:
Post a Comment